Bibir Dalam Pispot – Hamsad Rangkuti
Barangkali banyak orang yang mengenal Hamsad Rangkuti karena judul salah satu cerita pendeknya yang fenomenal, Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu. Cerpen itu ada di buku Bibir Dalam Pispot—dan dimuat di salah satu buku antologi cerpen terbaik Kompas. Saya sendiri mulai jatuh cinta kepada cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti dari dua kumpulan cerpennya yang lain, Lukisan Perkawinan dan Cemara.
Saya menyukai cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti yang tenang dan sederhana, tetapi kadang penuh mengejutkan. Selain itu, tidak banyak penulis cerita pendek yang cukup konsisten membicarakan kisah-kisah kecil orang-orang kecil seperti yang dilakukan Hamsad Rangkuti.
Kuda Terbang Mario Pinto – Linda Christanty
Menurut saya, sejauh ini, penulis prosa Indonesia paling rapi yang pernah saya baca adalah Linda Christanty. Seluruh bagian dalam cerpen Linda seolah diukur dan dipertimbangkan dengan matang—dan, karena itu pula, saya kadang berpikir cerpen-cerpennya kehilangan spontanitas, terutama di buku-buku cerpennya yang lain. Bagian yang paling saya suka dari cerpen-cerpen di buku ini adalah saya merasa hal yang sesungguhnya hendak disampaikan oleh Linda berkelebat seperti bayangan di balik kata-kata yang menyusun ceritanya. Mereka tidak tampak. Mereka menghantui.
Semua kumpulan cerpen Linda Christanty saya baca minimal dua kali. Tetapi, dibandingkan dengan Rahasia Selma dan Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, saya tetap lebih menyukai kumpulan cerpennya yang pertama, Kuda Terbang Mario Pinto.
Mati Baik-baik, Kawan – Martin Aleida
Saya mulai menyukai cerita-cerita Martin Aleida ketika membaca kumpulan cerpennya, Leontin Dewangga. Saya menyukai gaya bertutur pengarang satu ini yang tampak tergesa-gesa—seperti diburu oleh pikiran-pikirannya sendiri—tetapi tetap terukur. Cerita-cerita yang lahir dari kepala Martin Aleida seperti didesakkan oleh kemarahan—atau barangkali dendam—sehingga tampak tidak punya jalan lain selain diungkapkan. Dan, sebagai pembaca, saya merasa juga tidak punya pilihan lain selain mendengarkannya.
Seribu Kunang-kunang di Manhattan – Umar Kayam
Kadang-kadang saya merasa tidak ada yang istimewa dalam cerpen-cerpen Umar Kayam. Tokoh-tokohnya digambarkan biasa saja. Mereka adalah orang-orang biasa dengan kisah yang datar-datar saja. Temanya juga tidak terlalu menarik. Jika ada yang menonjol, barangkali caranya menggambarkan suasana. Tetapi, setiap kali saya membaca satu cerita pendeknya, saya seperti ingin membaca cerita pendeknya yang lain. Saya seolah hadir dan menjadi bagian cerita-cerita itu, menjadi saksi dan mengamati semua hal yang digambarkannya. Dengan alasan itulah saya kemudian menemukan diri saya membaca semua cerita pendeknya yang bisa saya dapatkan.
Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali – Puthut EA
Cerpen-cerpen awal Puthut yang saya baca terkesan manis dan dituturkan dengan narasi yang tidak menjemukan. Tetapi, saya merasa puncak pencapaian ceritanya justru hadir di kumpulan Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali. Berbeda dengan cerpen-cerpennya sebelum itu—misalnya, di buku Kupu-kupu Bersayap Gelap dan Dua Tangisan pada Satu Malam—yang berkisah rada sentimental, cerpen-cerpen di buku ini terasa lebih berisi. Cerpen-cerpen di buku itu menawarkan sesuatu yang lebih dewasa tetapi dituturkan dengan santai.
Dalam Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, Puthut EA terlihat dengan sadar selalu meletakkan tokoh-tokohnya di ruang publik. Bagi saya, itu adalah hal yang sangat menarik dan jarang dilakukan oleh cerpenis Indonesia lainnya.
Cinta Tak Ada Mati – Eka Kurniawan
Jika ada penulis prosa di Indonesia yang betul-betul saya cemburui saat ini, pastilah Eka Kurniawan. Bukan hanya karena dia selalu berhasil menulis novel yang bagus. Tetapi, cerpen-cerpen yang dia tulis pun sangat menyebalkan. Kumpulan ceritanya yang paling saya suka adalah Cinta Tak Ada Mati. Seperti juga di novel-novelnya, saya selalu menemukan Eka Kurniawan berhasil mengubah semua hal yang dia baca menjadi miliknya—dengan caranya sendiri. Dia bertutur dengan rapi dan sungguh seperti juru dongeng yang lihai. Anda akan mengerti maksud saya jika membaca buku cerpennya yang satu ini.
Meskipun Corat-coret di Toilet dan Gelak Sedih, dua kumpulan cerpennya yang lain, juga saya suka, Cinta Tak Ada Mati adalah kumpulan cerpennya yang paling saya suka.
Sumber : http://revi.us/sejumlah-kumpulan-cerpen-indonesia-yang-saya-baca-dua-kali-atau-lebih/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar